Sabtu, 03 Oktober 2009

tAhApAn dALaM MeMakAI KimOnOoOO

Kimono yang lazim dipakai saat ini, terdiri dari satu lapis saja. Kenapa tampak tebal? Karena ada lapisan dalamannya (under garment) atau juban. Biasanya ada dua lapis, hadajuban yaitu lapisan paling dalam, dari bahan yang nyerap keringat. Lapisan berikutnya juban, biasanya berwarna putih atau agak2 pink, dengan sedikit motif sederhana yang sewarna. Hadajuban dan juban dipakai untuk menghindari kerusakan pada kain kimono akibat keringat pemakainya. Meski biasanya ada dua lapis, kadang pemakainya hanya memilih satu lapis juban saja untuk ngurangin rasa panas. Juban ini dipakai untuk ngasih aksentuasi pada kerah leher di bawah kimono, agar tampak kontras. Sekarang, sudah ada kerah yang bisa dilepas atau diganti yang disebut eri-sugata. Jadi, pemakainya cukup pakai satu lapis juban ditambah eri-sugata tadi.

Langkah2nya sebagai berikut:
1. Pakai tabi (kaus kaki putih berbelah) lebih dulu karena kalau dipakainya setelah kimono dan obi terpasang, bakalan sulit. Kecuali ada yang mau rela bantu makai, tapi kan manja banget jadinya...

2. Pakai hadajuban atau hanya juban saja kalau takut kepanasan. Aturan dasarnya, bagian dari sebelah kiri selalu di atas bagian yang kanan. Kalau kebalik? Berarti itu mayat yang siap dimakamkan! Kanan di atas kiri hanya berlaku untuk orang yang sudah meninggal. Nah, juban maupun kimono memang biasanya lebih panjang daripada badan pemakainya, biasanya 1,5 - 1,8 m (kalau kimono Maiko atau Geiko bisa sampai 2 m lho). Untuk itu, perlu dilipat di pinggang dengan rapi. Bagian bawah dibuat sepanjang mata kaki saja.

3. Lapisan yang terlipat tadi, lalu diikat dengan koshi-himo atau tali pengikat dari kain yang agak lebar. Setelah dibelitkan mengelilingi perut dengan rapi, lalu sisanya ditalikan di depan. Koshi-himo ini biasanya berwarna, jadinya kontras dengan jubannya.

4. Setelah itu, di atas koshi-himo tadi, diikat lagi dengan dengan date jime atau tali kain yang lebih kecil dan berwarna polos. Kalau perlu pakai eri-sugata, dipasang sekalain di atas kerah jubannya.

5. Setelah itu, baru kain kimononya. Sama dengan ketika pakai juban tadi, tetap harus dirapiin bagian ujung dan lipatannya. Setelah itu, diikat lagi dengan kOShi-himo dan date jime. Di Jepang itu, ketika makai kimono, tubuh cewek yang proposional adalah lurus dari atas hingga bawah, nggak boleh nampakin lekuk tubuh, baik samping, depan ataupun belakang. Sopan banget ya?!

Nah, buat yang model badannya kayak gitar Spanyol, harus rela disembunyiin dengan tambahan semacam handuk kecil yang dililitkan di sekitar perut. Nggak hanya pinggang yang diratain, perut dan dada pun harus rata. Makanya, ada lho yang sampai harus disisipi dua helai handuk kecil agar tampak rata.



6. Setelah itu semua beres dan rapi, barulah obi resminya. Panjang obi biasanya 2 m atau 2,5 m (untuk Maiko atau Geiko biasanya 6 m,)Ini bagian paling berat!!! Karena obi ini bahannya agak kaku, makanya harus terikat dengan benar dan kuat. Makanya, yang periasnya biasanya harus narik sekuat tenaga dan pemakainya harus nahan biar nggak kepelanting ataupun tersungkur. Bahkan kadang mesti 2 orang yang masangin biar benar2 kuat dan rapi. Kata Mama dan beberapa orang Jepang, Maiko atau Geiko dibantu oleh 2 cowok buat naliin obinya...Pernah lihat perempuan Eropa jaman dulu dipakain korset? Ya kayak gitu. Badan harus tegak, biar perut rata dan obinya bagus... Udah diikat berulangkali, masih ditarik2... , kalau sesak nafas mending jangan deh... Pemakainya juga nggak boleh banyak gerak selama proses penalian obi ini biar obinya nggak kendur sebelum dikunciin di belakang. Di bagian belakang, diikat2 lagi dan ditata dengan berbagai bentuk.



7. Setelah selesai, dihiasi lagi dengan lilitan tali kecil di atas obinya atau obi-jime. Baru setelah itu, ditambahi dengan tali2 atau pita2 lain di belakang. Bisa juga dililiti lagi semacam kain tipis (mirip handuk, lagi2...) di bawah obi sebelah atas. Tujuannya, lagi2 untuk mempercantik dan meratakan perut dan dada.



8. Selesai dan tinggal pakai geta (sandal kayu) atau zori (sandal jerami). Ini yang perlu hati2! Kimono itu memang dibuat biar jalan kita "thimik-thimik" (istilah Jawa nih, artinya langkahnya kecil2) makanya ketika berjalan juga harus ekstra teratur. Masukin kaki ke geta yang susah karena tali sandalnya biasanya sangat sempit atau ngepres kaki.

Dari belakang akan tampak seperti di bawah ini, ada beragam cara penalian lho...





Nah, setelah cantik dengan kimono dan geta, pelengkapnya adalah tas tangan atau dompet yang selaras warna dan motifnya. Terus, siap jalan deh! Cara jalan yang bagus pun ada lho... Jadi, ujung sepatunya diarahin ke dalam, tapi nggak sampai lenggak-lenggok kayak peragawati lho. Cuman ujungnya aja. Ngangkat kakinya juga nggak boleh tinggi2. Naik turun tangan juga ada caranya, dengan sedikit menarik atau melipat kain kimono di bagian paha. Jadi itu to, jalan cantik ala Jepang. Makanya nggak heran banyak cewek Jepang yang sering dibilang jalannya kayak orang berkaki O. Terus, kalau nggak bawa apapun, tangannya diletakin di depan paha.



Mau duduk, ada aturannya lagi, kimono bagian bawah, agak ditarik ke atas dikit aja, lalu duduk sambil ngeratain permukaan kimononya. Lutut kanan, biasanya menyentuh lantai terlebih dulu dan diikuti lutut kiri pada waktu yang yang hampir bersamaan. Ribet ya bayanginnya? Emang enakan dipraktekkan langsung sih soalnya.



Untuk upacara minum teh, biasanya bawa sapu tangan yang sisipkan secara cantik di bagian dada. Gunanya buat ngelap bekas bibir kita di gelas yang kita pakai. Lengan yang panjang itu, bagian sisinya berlubang lho. Buat apa coba? Jadi, kalau ada tisu atau tusuk gigi yang habis kita pakai, dimasukkinnya ke sana...Kalau kepepet sih...

Nah, kimono tuh kan kesannya anggun, cantik, kalem, rapi, makanya kalau sudah susah2 didandani gitu jangan bertingkah yang aneh2 atau loncat2 seperti ini:



Atau berlaku bodoh dan genit dengan menghadang tamu2 di pintu lift seperti ini.... (berharap samurainya datang kali ya???)



Fiuh, panjang ya cerita tentang kimono. Masih belum dapat gambaran nyeseknya pakai kimono? Duduk mesti tegak terus, jangan sampai jatuhin barang daripada nggak bisa ngambil karena bakalan susah jongkok. Nah, kalau diikat sekencang itu, apa masih bisa makan? Masih bisa kok karena tingkat kekencangan obi itu biasanya diatur sesuai tujuan acaranya. Jadi, masih bisa diatur agar ada ruang buat perut yang bakalan penuh diisi makanan. Meski begitu, emang dasarnya orang Jepang makannya sedikit, beragam tapi jumlah masing2nya sedikit.

Pokoknya sama persis deh dengan kalau kita pakai pakaian tradisional Jawa yang mesti dililit dengan stagen (kain ikat pinggang). Untung sejak kecil biasa ditumbalka sebagai pagar ayu atau domas ataupun nari jadi nggak kaget2 amat. Bedanya dengan pakaian Jawa, kimono ini nggak ngebolehin bentuk tubuh perempuan yang elok itu tampak, justru harus lurus atau rata. Kalau jaritan, bentuk tubuhnya kayak gitar Spanyol, ya bakalan dibiarin saja. Malah kata perias2 Jawa itu, kalau pakai kain akan tampak bagus jika pantat dan pinggulnya berisi (hoooooo....). Kimono itu nggak seksi kok. Meski bagian ketiak nggak nyambung ke badan, tapi nggak bakalan nunjukin bagian yang nggak perlu dilihat orang kok. Yang bikin seksi itu, barangkali ketika ujung lengan disingkap dan lengannya yang putih tampak. Tapi, kayaknya hanya para entertainer seperti Maiko, Geiko, dan Geisha deh yang bisa bergerak segemulai itu. Eh, tapi seksi itu tergantung yang makai juga sih. Kalau pemakainya berpikir seksi, ya seksi....

bEriKT Ini pElEnGkAP KimoNonYAaA...

HADAJUBAN


JUBAN


ERI SUGATA


KOSHI HIMO


DATE JIME


JIME


OBI


FORMAL OBI


YUKATA'S OBI

DiPoSkAn oLEh : hIMawARi sEnPaI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar