Senin, 12 Oktober 2009

ObOn, bOn oDoRy dAn sEJaRaHnYA


Obon

Obon (お盆) adalah serangkaian upacara dan tradisi di Jepang untuk merayakan kedatangan arwah leluhur yang dilakukan seputar tanggal 15 Juli menurut kalender Tempō (kalender lunisolar). Pada umumnya, Obon dikenal sebagai upacara yang berkaitan dengan agama Buddha Jepang, tapi banyak sekali tradisi dalam perayaan Obon yang tidak bisa dijelaskan dengan dogma agama Buddha. Obon dalam bentuk seperti sekarang ini merupakan sinkretisme dari tradisi turun temurun masyarakat Jepang dengan upacara agama Buddha yang disebut Urabon.

Tradisi dan ritual seputar Obon bisa berbeda-beda bergantung pada aliran agama Buddha dan daerahnya.

Di berbagai daerah di Jepang, khususnya di daerah Kansai juga dikenal perayaan Jizōbon yang dilakukan seusai perayaan Obon.

Asal-usul

Obon merupakan bentuk singkat dari istilah agama Buddha Ullambana Sutra, dan lidah orang Jepang menyebutnya Urabon (盂蘭盆, Urabon), tapi kemudian yang diambil hanya aksara Kanji terakhirnya saja (盆, bon, nampan) ditambah awalan honorifik huruf “O.”

Sutra tersebut menceritakan tentang seorang biksu bernama Mokuren (Mogallana), yang dalam pertapaannya ia melihat ibunya menderita kelaparan di neraka, di mana setiap makanan yg disentuhnya selalu terbakar api. Mokuren lalu memohon pada Shakyamuni Buddha untuk menyelamatkan ibunya dari nasib buruk terbeut. Shakyamuni memerintahkan Mokuren agar dosa-dosa ibunya di masa lalu terampunkan, dia harus membuat persembahan berupa makanan yg terbuat dari bahan-bahan dari darat dan laut kepada kawan-kawan biksunya pada hari terakhir pertapaan mereka (yang berlangsung selama 90 hari dan berakhir pada pertengahan bulan Juli). Setelah memenuhi perintah dari Shakyamuni, Mokuren menari penuh kegembiraan saat ibunya dan 7 generasi nenek moyangnya dibebaskan dari semua siksaan. Tarian inilah yg kemudian diadopsi menjadi tarian Bon Odori.

Kisah ini perlahan berkembang menjadi festival peringatan untuk nenek moyang, dan mengambil wujud yg bermacam-macam di negara-negara yg memiliki banyak penganut Buddha Mahayana, terutama di China, Korea, Jepang dan Vietnam. Festival Obon di Jepang sudah dilaksanakan secara tahunan sejak tahun 657 M. Dalam sekte Jodo Shinshu (salah satu dari sekte aliran kepercayaan di Jepang), festival ini dikenal dengan nama Kangi-E.

Pada mulanya, Obon berarti meletakkan nampan berisi barang-barang persembahan untuk para arwah. Selanjutnya, Obon berkembang menjadi istilah bagi arwah orang meninggal (shōrō) yang diupacarakan dan dimanjakan dengan berbagai barang persembahan. Di daerah tertentu, Bonsama atau Oshorosama adalah sebutan untuk arwah orang meninggal yang datang semasa perayaan Obon.

Asal-usul tradisi Obon di Jepang tidak diketahui secara pasti. Tradisi memperingati arwah leluhur di musim panas konon sudah ada di Jepang sejak sekitar abad ke-8.

Sejak dulu di Jepang sudah ada tradisi menyambut kedatangan arwah leluhur yang dipercaya datang mengunjungi anak cucu sebanyak 2 kali setahun sewaktu bulan purnama di permulaan musim semi dan awal musim gugur. Penjelasan lain mengatakan tradisi mengenang orang yang meninggal dilakukan 2 kali, karena awal sampai pertengahan tahun dihitung sebagai satu tahun dan pertengahan tahun sampai akhir tahun juga dihitung sebagai satu tahun.

Di awal musim semi, arwah leluhur datang dalam bentuk Toshigami (salah satu Kami dalam kepercayaan Shinto) dan dirayakan sebagai Tahun Baru Jepang. Di awal musim gugur, arwah leluhur juga datang dan perayaannya secara agama Buddha merupakan sinkretisme dengan Urabon.

Jepang mulai menggunakan kalender Gregorian sejak tanggal 1 Januari 1873, sehingga perayaan Obon di berbagai daerah di Jepang bisa dilangsungkan pada tanggal:

1. bulan ke-7 hari ke-15 menurut kalender Tempō
2. 15 Juli menurut kalender Gregorian
3. 15 Agustus menurut kalender Gregorian mengikuti perhitungan Tsukiokure (tanggal pada kalender Gregorian selalu lebih lambat 1 bulan dari kalender Tempō).

Pada tanggal 13 Juli 1873 pemerintah daerah Prefektur Yamanashi dan Prefektur Niigata sudah menyarankan agar orang tidak lagi merayakan Obon pada tanggal 15 Juli menurut kalender Tempō

Sekarang ini, orang Jepang yang merayakan Obon pada tanggal 15 Juli menurut kalender Tempō semakin sedikit. Pada saat ini, orang Jepang umumnya merayakan Obon pada tanggal 15 Agustus menurut kalender Gregorian.

Orang yang tinggal di daerah Kanto secara turun temurun merayakan Obon pada tanggal 15 Juli kalender Gregorian, termasuk mengunjungi makam pada sebelum tanggal 15 Juli. Pengikut salah satu kuil di Tokyo selalu ingin merayakan Obon pada tanggal 15 Juli sehingga Obon jatuh pada tanggal 15 Juli, sedangkan pengikut kuil di Prefektur Kanagawa selalu ingin merayakan Obon tanggal 15 Agustus sehingga Obon jatuh pada tanggal 15 Agustus.

Media massa memberitakan perayaan Obon pada tanggal 15 Agustus sehingga orang di seluruh Jepang menjadi ikut-ikutan merayakan Obon pada tanggal 15 Agustus.

Obon pada akhirnya bukan lagi merupakan upacara keagamaan yang merayakan kedatangan arwah leluhur melainkan hari libur musim panas yang dinanti-nanti banyak orang di Jepang. Sekarang Obon lebih banyak diartikan sebagai kesempatan pulang ke kampung halaman untuk bertemu sanak saudara dan membersihkan makam. Obon sama artinya dengan liburan musim panas bagi orang Jepang yang tidak mengerti tradisi agama Buddha.

Ada kemungkinan perayaan Obon mendapat pengaruh dari orang yang mengartikan peristiwa bintang jatuh (hujan meteor) sebagai kedatangan arwah leluhur. Di dalam beberapa kebudayaan, arwah orang yang sudah meninggal sering diumpamakan berubah menjadi bintang, sedangkan peristiwa bintang jatuh paling banyak terjadi bertepatan dengan hujan meteor Perseid tahunan yang mencapai puncaknya beberapa hari sebelum tanggal 15 Agustus.

Tanggal 15 Agustus bagi agama Katolik merupakan hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga yang banyak dirayakan di Eropa Selatan, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Perayaan Obon pada tanggal 15 Agustus juga bertepatan dengan hari peringatan berakhirnya perang (Shūsen kinenbi) yang di luar Jepang dikenal sebagai V-J Day (Victory over Japan Day).

Tradisi yang umum


Tradisi dalam merayakan Obon berbeda-beda tergantung pada daerahnya, tapi ada beberapa tradisi yang umumnya dilakukan orang di seluruh Jepang.

Urut-urutan ritual


Orang Jepang percaya arwah orang yang meninggal pulang untuk merayakan Obon ke rumah yang pernah ditinggalinya. Pada tanggal 13 Agustus, anak cucu yang mengharapkan kedatangan leluhur membuat api kecil di luar rumah yang disebut Mukaebi untuk menerangi jalan pulang bagi arwah leluhur. Pada masa lokasi makam masih berdekatan dengan lokasi permukiman, orang zaman dulu sering harus pergi sampai ke makam untuk menyambut kedatangan arwah leluhur.

Setelah arwah leluhur sampai di rumah yang dulu pernah ditinggalinya, pendeta agama Buddha dipanggil untuk membacakan sutra bagi arwah leluhur yang baru saja datang. Sutra yang dibacakan oleh pendeta Buddha sewaktu Obon disebut Tanagyō karena dibacakan di depan altar berisi barang persembahan yang disebut shōrōdana (shōryōdana) atau tana.

Pada tanggal 16 Agustus, arwah leluhur pulang ke alam sana dengan diterangi dengan api yang disebut Okuribi.

Bon Odori

Acara menari bersama yang disebut Bon Odori (盆踊り, Bon Odori, tari Obon) dilangsungkan sebagai penutup perayaan Obon. Pada umumnya, Bon Odori ditarikan bersama-sama tanpa mengenal jenis kelamin dan usia di lingkungan kuil agama Buddha atau Shinto. Konon gerakan dalam Bon Odori meniru arwah leluhur yang menari gembira setelah lepas dari hukuman kejam di neraka.

Bon Odori merupakan puncak dari semua festival musim panas (matsuri) yang diadakan di Jepang. Pelaksanaan Bon Odori memilih saat terang bulan yang kebetulan terjadi pada tanggal 15 Juli atau 16 Juli menurut kalender Tempō. Bon Odori diselenggarakan pada tanggal 16 Juli karena pada malam itu bulan sedang terang-terangnya dan orang bisa menari sampai larut malam.

Belakangan ini, Bon Odori tidak hanya diselenggarakan di lingkungan kuil saja dan penyelenggaranya sering tidak ada hubungan sama sekali dengan organisasi keagamaan. Bon Odori sering dilangsungkan di tanah lapang, di depan stasiun kereta api atau di ruang-ruang terbuka tempat orang banyak berkumpul.

Di tengah-tengah ruang terbuka, penyelenggara mendirikan panggung yang disebut Yagura untuk penyanyi dan pemain musik yang mengiringi Bon Odori. Penyelenggara juga sering mengundang pasar kaget untuk menciptakan keramaian agar penduduk yang tinggal di sekitarnya mau datang. Bon Odori juga sering digunakan sebagai sarana reuni dengan orang-orang sekampung halaman yang pergi merantau dan pulang ke kampung untuk merayakan Obon.

Belakangan ini, jam pelaksanaan Bon Odori di beberapa tempat yang berdekatan sering diatur agar tidak bentrok dan perebutan pengunjung bisa dihindari. Penyelenggara Bon Odori di kota-kota sering mendapat kesulitan mendapat pengunjung karena penduduk yang tinggal di sekitarnya banyak yang sedang pulang kampung. Ada juga penyelenggara yang sama sekali tidak menyebut acaranya sebagai Bon Odori agar tidak dikait-kaitkan dengan acara keagamaan.

Hatsu-obon dan Niibon


Hatsu-obon atau Niibon adalah sebutan untuk perayaan Obon yang baru pertama kali dialami oleh arwah orang meninggal yang baru saja peringatan 49 harinya selesai diupacarakan. Perlakuan khusus diberikan untuk arwah yang baru pertama kali merayakan Obon dalam bentuk pembacaan doa yang lebih banyak.

Tradisi Hatsu-obon berbeda-beda tergantung pada daerahnya. Di daerah tertentu, orang yang tinggal di rumah yang baru saja mengalami kematian biasanya memasang lampion berwarna putih di depan pintu masuk rumah dan di makam.

Tradisi di berbagai daerah

Ada berbagai tradisi unik di berbagai tempat di Jepang sehubungan dengan perayaan Obon.

* Kendaraan dari terong dan ketimun

Di daerah tertentu ada tradisi membuat kendaraan semacam kuda-kudaan yang disebut Shōryō-uma dari terong dan ketimun. Empat batang korek api atau potongan sumpit sekali pakai (waribashi) ditusukkan pada terong dan ketimun sebagai kaki. Terong berkaki menjadi “sapi” sedangkan ketimun menjadi “kuda” yang kedua-duanya dinaiki arwah leluhur sewaktu datang dan pulang. Kuda dari ketimun bisa lari cepat sehingga arwah leluhur bisa cepat sampai turun ke bumi, sedangkan sapi dari terong hanya bisa berjalan pelan dengan maksud agar arwah leluhur kalau bisa tidak usah cepat-cepat pulang.

* Mendoakan hantu lapar


Di beberapa daerah dilangsungkan upacara Segaki di kuil agama Buddha untuk menolong Gaki (hantu kelaparan) dengan mendirikan pendirian altar yang disebut Gakidana dan mendoakan arwah orang yang meninggal di pinggir jalan.

* Lampion Obon

Ada daerah yang mempunyai tradisi memajang lampion perayaan Obon yang disebut Bon Chochin dengan maksud agar arwah leluhur bisa menemukan rumah yang dulu pernah ditinggalinya. Bon Chochin terbuat dari washi dengan kaki penyangga dari kayu.

* Melarung lampion

Beberapa daerah memiliki tradisi Tōrōnagashi berupa pelarungan lampion dari washi di sungai sebagai lambang melepas arwah leluhur untuk kembali ke alam sana. Ada daerah yang mempunyai tradisi Shōrōnagashi yang menggunakan kapal kecil untuk memuat lampion sebelum dilarung di sungai.

Liburan Obon


Liburan tidak resmi di Jepang sebelum dan sesudah hari raya Obon disebut liburan Obon (Obonyasumi) yang lamanya tergantung pada keputusan masing-masing perusahaan. Kantor-kantor dan pemilik usaha biasanya meliburkan karyawannya sebelum dan sesudah tanggal 15 Agustus selama 3 sampai 5 hari.

Acara Obon di berbagai daerah


Daerah Tohoku

* Prefektur Iwate

Funekko Nagashi (kota Morioka dan kota Tōno)

* Prefektur Akita

Tiga Bon Odori terbesar:

Kemanai Bon Odori di kota Kazuno (21-23 Agustus)
Hitoichi Bon Odori di kota Hachirōgata (18-20 Agustus)
Nishimonai Bon Odori di kota Ugo (16-18 Agustus)

* Prefektur Fukushima

Bon Odori yang diselenggarakan di kota Miharu memiliki panggung (yagura) untuk penyanyi dan pemusik yang unik.

Daerah Kanto

* Prefektur Tochigi

Hyakuhatō Nagashi di kota Tochigi

* Tokyo

Tsukuda no Bon Odori

Daerah Tokai


* Prefektur Gifu

Gujō Odori di kota Gujō

Daerah Kansai


* Prefektur Kyoto

Gozan no okuribi di kota Kyoto

* Prefektur Nara

Nara Daimonji Okuribi di kota Nara

Daerah Chugoku

* Prefektur Hiroshima

Lampion Bontōrō di daerah Aki

Daerah Shikoku

* Prefektur Tokushima

Awa Odori di kota Tokushima

Daerah Kyushu


* Prefektur Nagasaki

Chankoko Odori di kota Gotō
Shōrōnagashi di beberapa tempat
Kembang api yang dinyalakan sejak siang hari di makam

* Prefektur Okinawa

Eisa di berbagai tempat
Angama di kota Ishigaki

Di luar Jepang


China


Festival Hantu (盂蘭節), versi China dari Obon, diselenggarakan pada bulan ke-7 dari kalender China dan bukan pada bulan Juli kalender Masehi.

Brazil


Festival Bon Odori dilakukan setiap tahun di banyak koloni-koloni Jepang di Brazil, karena Brazil adalah negeri yg paling banyak memiliki populasi orang Jepang di luar Jepang. São Paulo adalah kota utama bagi koloni Jepang di Brazil. Acara yg berlangsung selain Bon Odori juga tari-tarian Matsuri, menabuh Taiko, dan kontes Shamisen.

Malaysia


Festival Bon Odori juga diselenggarakan setiap tahun di The Esplanade, Penang dan Stadium Matsushita Corp. di Shah Alam. Perayaan ini yg merupakan atraksi besar di negara bagian Selangor, merupakan pusat masyarakat ekspatriat dan imigran dari Jepang di Malaysia. Tetapi dibandingkan dengan Jepang, Bon Odori di Penang dan Selangor relatif lebih kecil skalanya. Di sini pun, Bon Odori sedikit asosiasinya dengan acara keagamaan, dan lebih ke arah festival kebudayaan Jepang.

Amerika Serikat dan Kanada

Bon Odori dirayakan dan diselenggarakan oleh semua kuil Buddha Jepang di seluruh Amerika Utara. Di kota-kota besar seperti Los Angeles dan Honolulu, Bon Odori menjadi ajang perolehan dana bagi kuil-kuil tersebut yg dilakukan pada akhir pekan-akhir pekan mulai bulan Juli hingga Agustus. Beberapa kuil memisahkan lokasi acara Bon Odori dan lokasi stan-stan komersial agar semua anggotanya bisa berpartisipasi dengan bebas. Karena festival ini diselenggarakan oleh kuil-kuil yg berasal dari seluruh wilayah Jepang, tarian Bon Odori-nya juga bervariasi.

Indonesia

Bon Odori sebagai pengenalan terhadap kebudayaan Jepang juga diselenggarakan di Jakarta dan Bandung sebagai salah satu bentuk pengenalan budaya Jepang di Indonesia.

Dan yang pasti semua festival di atas juga menyuguhkan ragam pesona seni dan makanan khas dari Jepang.

Penutup


Bon Odori punya keunikan yg mirip dengan festival-festival budaya yang lainnya semacam perayaan hari Valentine, Halloween, ThanksGivings, dll Sebagai sebuah festival, Obon bagi penganut agama Buddha adalah waktu untuk mengenang dan menghormati semua orang yg sudah meninggal. Saatnya untuk mengapresiasi semua jasa-jasa mereka dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia saat ini. Obon juga saatnya untuk melakukan refleksi diri, bahwa kebahagiaan yg diperoleh bukanlah karena berhasil meraih apa yg dihasratkan, tetapi kebahagiaan karena telah memperoleh kesadaran. Nilai universal yg ditawarkan dalam Bon Odori, membuat perayaan ini tidak hanya menjadi milik penganut agama Buddha saja tetapi juga milik semua orang yg bisa mengambil hikmah darinya.

soUrCe : http://www.akemapa.com/2008/05/16/obon-dan-bon-odori-sejarah-dan-perkembangan-budayanya/

Minggu, 04 Oktober 2009

>> lAnJutAN MaKhlUK-MaKHlUk mItOs DaLaM LegENda jEPaNG

Makhluk halus di Jepang umumnya disebut youkai. YOUKAI bisa berarti oni (setan), obake (hantu) atau yurei (roh), pokoknya ada banyak!! supaya memudahkan kita, makhluk-makhluk gaib tadi kita sebut YOUKAI. Jepang, merupakan salah satu negara yang terkenal dengan makhluk-makhluk gaibnya (layaknya jawa, hehe yang terkenal dengan pocong dan kuntilanak aja) sebagian besar makhluk gaib itu ternyata sudah menjadi mitos atau mempunyai legenda tersendiri bagi masyarakat jepang.

Sekarang kita bahas beberapa makhluk mitos yang sering muncul di anime, manga, dll YuUK!!

1.Oni (setan)
adalah makhluk yang berkekuatan besar yang konon katanya berasal dari neraka dan suka mengganggu kehidupan manusia di muka bumi.Oni dalam cerita rakyat jepang digambarkan sebagai makhluk yang berwajah menyeramkan dengan didi taring mencuat, bertanduk dan berkulit merah. Oni yang digambarkan setara dengan iblis dan setan-setan di eropa, mereka dianggap sebagai makhluk yang punya kekuatan supranatural yang dapat menghancurkan manusia.






2.Kitsune (siluman rubah)
Kitsune adalah sebutan untuk binatang rubah dalam bahasa jepang. Dalam cerita rakyat jepang, rubah sering digambarkan sebagai makhluk yang cerdas yang kemampuan sihirnya makin sempurna seiring dengan semakin bijak dan semakin tuanya rubah tersebut, ada juga sumber yang mengatakan bahwa umur seekor kitsune dapat dilihat dari jumlah ekornya (ekor kitsune dapat mencapai 9 ekor).Selain itu, rubah dapat merubah bentuknya menjadi manusia. Dalam cerita, rubah sering siceritakan sebagai penjaga yang setia, kekasih, teman, istri, walaupun ada juga beberapa kisah rubah yang mengganggu atau menipu manusia. Dalam kepercayaan shinto, kitsune disebut Inari yang bertugas membawa pesan dari kami (dewa). Sebagian orang memberi persembahan bagi kitsune karena percaya akan kekuatan gaibnya.




3.Kuchisake-onna (wanita bermulut lebar)
Merupakan salah satu legenda pada masa heian, masa saat para samurai berkuasa. Kemungkinan ia adalah seorang istri atau selir samurai. Ia dikaruniai wajah yang sangat cantik namun sombong, ia juga sering berselingkuh di belakang suaminya. Suaminya merasa sangat cemburu dan dikhianati menyerangnya dan membelah mulutnya dari kuping ke kuping. “Sekarang siapa yang akan berkata kau cantik?” ejek suaminya.

Sementara dalam versi legenda urban, Kuchisake-onna adalah seorang wanita korban operasi wajah yang gagal. Konon katanya, dokter yang mengoperasi wajahnya memakai pomade (jenis minyak rambut) dengan bau yang menusuk. Ketika sedang dioperasi ia tidak bisa tenang karena bau itu sehingga si dokter secara tidak sengaja memotong mulutnya hingga robek. Wanita itu menjadi histeris dan marah lalu membunuh dokter itu. Belakangan ia dibunuh oleh para penduduk kota dan menjadi hantu penasaran.

Kuchisake-onna menutupi mulutnya yang robek dengan masker operasi dan sering bergentayangan di kota pada waktu malam, terutama ketika sedang berkabut. Bila bertemu seseorang (terutama anak-anak atau mahasiswa) di jalan yang sepi, ia akan bertanya, “Apakah saya cantik?” (Watashi kirei?) .Bila orang itu menjawab “ya”, ia akan membuka maskernya dan bertanya lagi, “Bahkan bila seperti ini?” Pada saat itu, bila si korban yang biasanya terkejut dan takut menjawab tidak, ia akan membunuhnya dengan gunting, golok, sabit, atau senjata tajam lainnya. Bila si korban tetap menjawab ya setelah melihat wajahnya di balik masker, ia akan gembira dan membebaskannya, namun ada juga yang mengatakan walaupun korban melakukan itu, Kuchisake-onna mengikutinya sampai ke rumah baru akan membunuhnya di depan pintu rumah si korban. Bila korbannya wanita, Kuchisake-onna akan merobek mulutnya hingga serupa dengannya, bila korbannya anak-anak, ia akan memakannya.

Legenda urban yang populer pada tahun 70’an mengatakan bahwa korban akan selamat bila ia menjawab “biasa saja”. Sementara versi tahun 2000an mengatakan bahwa korban akan selamat bila menjawab, “begitulah” sehingga Kuchisake-onna bingung dan berpikir dulu apa yang akan ia lakukan, saat sedang bingung itulah korban mempunyai kesempatan untuk kabur. Cara lain untuk lolos dari Kuchisake-onna adalah dengan menawarkannya permen keras berwarna kuning tua karena ia menyukainya namun tidak bisa menikmatinya sehingga mengingatkannya lagi pada penderitaannya. Selain itu bisa juga dengan mengucapkan “pomade” sebanyak tiga kali, ada yang menyebutkan enam kali. Ucapan itu akan membuatnya takut dan kabur karena mengingatkannya kembali pada ahli bedah yang merusak wajahnya. Korban juga bisa memakai pomade untuk mencegahnya mengikutinya.





4.Bijuu (9 dewa perang)

Bijuu adalah makhluk-makhluk legenda dari mitologi Jepang. Kebanyakan dari mereka bertubuh besar dan berkekuatan menakjubkan. Mereka tersebar di seluruh daerah Jepang. Kekuatan chakra/ stamina mereka diklasifikasikan melalui banyaknya jumlah ekor mereka. Seperti Shukaku si ekor satu memiliki kapasitas chakra terendah dari semua bijuu. Tidak semua bijuu bertubuh besar. Seperti Kaku, si luak berekor tujuh yang ukuran tubuhnya tidak terlalu besar. Bijuu dengan ukuran kolosal adalah Yamata no Orochi yang besarnya melebihi tujuh buah gunung. Ini dikarenakan kekuatan Kusanagi no Tsurugi yang sangat besar.

Para bijuu ini hanyalah mitos yang ada di Jepang. Kabarnya roh-roh mereka disegel di 9 kuil di Jepang. Para bijuu ini juga ada mahluk yang setengah dewa maupun peliharaan dewa.





5.Kappa (anak sungai)
Adalah sejenis makhluk legenda, termasuk jenis peri air yang banyak ditemukan dalam cerita legenda rakyat jepang. Kebanyakan gambaran banyak yang memperlihatkan kappa sebagai humanoid seukuran anak, yang menyerupai monyet atau kodok daripada manusia. Beberapa keterangan mengatakan wajah mereka seperti kera, sementara yang lain memperlihatkan mereka dengan paras berparuh yang menyerupai bebek atau kura-kura. Anak-anak kecil merupakan salah satu jenis makanan favorit kappa yang rakus, meski mereka juga memakan yang dewasa juga. Mereka memakan korban-korban yang malang ini dengan menghisap shirikodama (usus, darah, liver, atau daya hidup, bergantung pada legendanya) melalui anus. Bahkan sekarang, tanda-tanda bahaya kappa yang muncul dengan tubuh air banyak yang muncul di desa dan kota-kota di jepang.




6.Amikiri
Kebanyakan youkai jenis ini tinggal di bawah air. Berwajah menyeramkan dan kadang-kadang menyerang manusia. Amikiri bisa hidup di darat dan berwujud manusia. Amikiri dapat menjadi teman baik bagi manusia jika mnusia tersebut menghargai lingkungannya.





7.Kasabake (hantu payung)
Hantu payung yang digambarkan bermata satu dan lidahnya terjulur. Penopangnya adalah satu kaki (gagang kayu) yang bersepatu. Konon katanya kasabake ini suka beterbangan saat hujan turun dan bermain dengan anak kecil.





8.Yuki-onna (wanita salju)
Youkai yang berwujud wanita cantik dan biasanya muncul di daerah pegunungan bersalju. Suka muncul di depan laki-laki muda, menggodanya dan minta dicium. Kalau samapai dicium yuki-onna (yukime)korbannya akan berubah menjadi balok es.





9.Sunakake Baaba
Youkai aneh yang katanya suka melempar pasir ke orang, tertawa lalu menghilang.





10.Norikabe
Youkai yang sukanya menyesatkan orang

Sabtu, 03 Oktober 2009

MaKhLuk lEgENdA DalAm kiSAh jEpAng

Tsuchinoko

Tsuchinoko, hewan mistik dari cerita dongeng atau mitos Jepang sejak jaman dulu, rupanya sangat terkenal untuk dijadikan bahan pembicaraan.

Tsuchinoko mempunyai bentuk seperti ular dengan panjang antara 30-80 cm dengan bagian tengah tubuhnya lebih lebar dari kepalanya dan mempunyai taring juga racun yang sama dengan ular.

Berdasarkan cerita legenda, tsuchinoko mempunyai kemampuan berbicara dengan manusia dan cenderung sering berbohong. Beberapa juga percaya kalau Tsuchinoko menyukai alkohol dan sanggup meloncat sejauh 1 meter.

Apakah tsuchinoko benar-benar ada? Selama ini belum pernah ada orang yang mendapatkan bukti fisiknya, meskipun sudah ribuan orang dari seluruh Jepang melaporkan pernah melihatnya secara samar-samar.




Misteri Tengu - Setan terbang

Di Jepang, ada legenda mengenai seekor makhluk angkasa yang misterius, yaitu makhluk yang dianggap sebagai Iblis dan digambarkan memiliki tubuh separuh burung dan separuh manusia. Makhluk ini disebut dengan nama Tengu. Luar biasanya, satu mumi Tengu tersimpan dengan rapi di Perfektur Aomori.

Museum Hachinohe di Aomori, Jepang utara, adalah rumah bagi Mumi Tengu yang konon pada awalnya dimiliki oleh Nambu Nobuyori, pemimpin klan Nambu yang memerintah Hachinohe di pertengahan abad ke-18.



Mumi itu memiliki kepala manusia, namun memiliki kaki dan sayap berbulu seperti burung. Tengu yang telah menjadi mumi ini dipercaya berasal dari kota Nobeoka (perfektur Miyazaki) di Jepang Selatan. Beberapa teori menyebut bahwa mumi ini sampai ke Jepang utara setelah diwariskan ke beberapa anggota keluarga Samurai yang memerintah Jepang, hingga akhirnya sampai ke Museum Hachinohe di Aomori.

Mitologi Tengu bermula dari sekitar abad ke-6 Masehi sejalan dengan tibanya agama Budha ke Jepang dari Cina. Tengu dianggap sebagai goblin yang tinggal di hutan dan gunung. Mereka disebut memiliki kekuatan supranatural seperti dapat berubah bentuk menjadi manusia atau hewan, dapat berbicara kepada manusia tanpa membuka mulut dan mampu pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat menggunakan sayapnya.

Kata Tengu sebenarnya berarti "Anjing langit". Dalam mitologi Cina, makhluk ini juga memiliki tempat tersendiri dengan nama Tien Kou (Tiangou) yang artinya juga anjing langit. Nama ini sebenarnya tidak sesuai dengan deskripsi Tengu. Makhluk ini tidak memiliki rupa anjing, melainkan lebih mirip seekor burung.



Buku Nihon Shoki, catatan kuno yang dianggap paling pertama menyebut Tengu, yang ditulis pada tahun 720 Masehi, menyebutkan bahwa pada abad itu sebuah meteor melintasi langit Jepang dan meteor itu disebut oleh seorang rahib Budha sebagai Anjing Langit (Tengu). Namun bagaimana Tengu berevolusi dari sebuah meteor menjadi makhluk terbang tidak diketahui dengan pasti.

Secara umum, Tengu memiliki dua bentuk fisik. Yang pertama disebut Karasu tengu yang memiliki kepala dan paruh seperti burung. Yang kedua adalah Konoha Tengu yang memiliki bentuk seperti manusia namun memiliki sayap dan hidung yang panjang (kadang disebut Yamabushi Tengu)

Menurut Legenda, sewaktu masih bocah, perajurit legendaris Jepang bernama Minamoto no Yoshitsune yang hidup pada tahun 1159-1189 pernah berlatih ilmu pedang dengan raja Tengu Soujoubou dekat Kuramadera di gunung utara Kyoto.

Tidak ada keterangan dan informasi lebih lanjut mengenai mumi yang dipajang di museum Hachinohe . Apakah ini sungguh mumi setan, makhluk Cryptozoology atau sebuah karya seni palsu dari abad lampau. Beberapa peneliti percaya bahwa mumi itu adalah sebuah karya seni buatan manusia, tapi belum ada bukti pasti yang disediakan untuk mendukung teori tersebut.

-- yURei (rOh hAlUzzz) --

Di Jepang, hantu dikenal sebagai Yurei. Kata "Yu" yang berarti halus atau samar-samar, dan "Rei" yang berarti roh atau arwah.

Mereka tidak memanggilnya dengan sebutan setan atau hantu atau jin.

Berdasarkan kepercayaan orang Jepang, semua manusia mempunyai roh atau arwah yang disebut sebagai reikon. Setelah seseorang meninggal, reikon akan pergi meninggalkan tubuhnya ke tempat penyucian arwah. Disana dia akan menunggu tubuhnya dikubur dan mendapatkan pemakaman yang layak.

Kalau semuanya berjalan lancar, reikon akan melindungi keluarganya yang masih hidup. Dan dipercaya bahwa arwah orang meninggal tersebut akan kembali ke keluarganya setiap tahun (yang kemudian dinamakan sebagai festival Obon).

Tapi kalau roh-roh tersebut tidak mendapatkan pemakaman yang layak, atau mungkin mereka meninggal karena dibunuh atau bunuh diri, reikon akan berubah menjadi yurei dan gentayangan di dunia manusia sampai rasa penasaran, amarah, dan dendam mereka hilang.

Yurei mempunyai wujud manusia yang memakai jubah kimono putih, tidak mempunyai kaki - alias melayang di udara, rambutnya panjang dan berwarna hitam. Umumnya, mereka juga dikelilingi oleh Hitodama, arwah yang berwujud api.

Yurei tidak gentayangan secara leluasa. Mereka selalu gentayangan tidak jauh dari tempat mereka meninggal. Orang Jepang percaya bahwa Yurei mulai gentayangan pada saat gerbang dunia roh dan dunia manusia hampir menyatu yaitu pada jam 2-3 pagi.

Yurei sendiri pun terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan cara mereka meninggal...

Onryo: adalah roh gentayangan yang mempunyai rasa dendam. Mereka akan memburu orang-orang yang telah menyakitinya.



Goryo: adalah roh gentayangan yang juga mempunyai rasa dendam. Pada saat masih hidup mereka adalah orang-orang yang terpandang, kaya raya, atau mempunyai jabatan tinggi.


Ubume: adalah roh seorang ibu yang meninggal pada saat melahirkan atau roh yang meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. Karena masih sayang pada anak-anaknya, mereka tidak rela untuk pergi ke dunia fana.



Funayurei: adalah roh orang-orang yang meninggal di laut.



Zashiki-warashi: adalah roh anak-anak. Mereka umumnya tidak berbahaya, tapi cukup nakal untuk mengganggu yang masih hidup.

tAhApAn dALaM MeMakAI KimOnOoOO

Kimono yang lazim dipakai saat ini, terdiri dari satu lapis saja. Kenapa tampak tebal? Karena ada lapisan dalamannya (under garment) atau juban. Biasanya ada dua lapis, hadajuban yaitu lapisan paling dalam, dari bahan yang nyerap keringat. Lapisan berikutnya juban, biasanya berwarna putih atau agak2 pink, dengan sedikit motif sederhana yang sewarna. Hadajuban dan juban dipakai untuk menghindari kerusakan pada kain kimono akibat keringat pemakainya. Meski biasanya ada dua lapis, kadang pemakainya hanya memilih satu lapis juban saja untuk ngurangin rasa panas. Juban ini dipakai untuk ngasih aksentuasi pada kerah leher di bawah kimono, agar tampak kontras. Sekarang, sudah ada kerah yang bisa dilepas atau diganti yang disebut eri-sugata. Jadi, pemakainya cukup pakai satu lapis juban ditambah eri-sugata tadi.

Langkah2nya sebagai berikut:
1. Pakai tabi (kaus kaki putih berbelah) lebih dulu karena kalau dipakainya setelah kimono dan obi terpasang, bakalan sulit. Kecuali ada yang mau rela bantu makai, tapi kan manja banget jadinya...

2. Pakai hadajuban atau hanya juban saja kalau takut kepanasan. Aturan dasarnya, bagian dari sebelah kiri selalu di atas bagian yang kanan. Kalau kebalik? Berarti itu mayat yang siap dimakamkan! Kanan di atas kiri hanya berlaku untuk orang yang sudah meninggal. Nah, juban maupun kimono memang biasanya lebih panjang daripada badan pemakainya, biasanya 1,5 - 1,8 m (kalau kimono Maiko atau Geiko bisa sampai 2 m lho). Untuk itu, perlu dilipat di pinggang dengan rapi. Bagian bawah dibuat sepanjang mata kaki saja.

3. Lapisan yang terlipat tadi, lalu diikat dengan koshi-himo atau tali pengikat dari kain yang agak lebar. Setelah dibelitkan mengelilingi perut dengan rapi, lalu sisanya ditalikan di depan. Koshi-himo ini biasanya berwarna, jadinya kontras dengan jubannya.

4. Setelah itu, di atas koshi-himo tadi, diikat lagi dengan dengan date jime atau tali kain yang lebih kecil dan berwarna polos. Kalau perlu pakai eri-sugata, dipasang sekalain di atas kerah jubannya.

5. Setelah itu, baru kain kimononya. Sama dengan ketika pakai juban tadi, tetap harus dirapiin bagian ujung dan lipatannya. Setelah itu, diikat lagi dengan kOShi-himo dan date jime. Di Jepang itu, ketika makai kimono, tubuh cewek yang proposional adalah lurus dari atas hingga bawah, nggak boleh nampakin lekuk tubuh, baik samping, depan ataupun belakang. Sopan banget ya?!

Nah, buat yang model badannya kayak gitar Spanyol, harus rela disembunyiin dengan tambahan semacam handuk kecil yang dililitkan di sekitar perut. Nggak hanya pinggang yang diratain, perut dan dada pun harus rata. Makanya, ada lho yang sampai harus disisipi dua helai handuk kecil agar tampak rata.



6. Setelah itu semua beres dan rapi, barulah obi resminya. Panjang obi biasanya 2 m atau 2,5 m (untuk Maiko atau Geiko biasanya 6 m,)Ini bagian paling berat!!! Karena obi ini bahannya agak kaku, makanya harus terikat dengan benar dan kuat. Makanya, yang periasnya biasanya harus narik sekuat tenaga dan pemakainya harus nahan biar nggak kepelanting ataupun tersungkur. Bahkan kadang mesti 2 orang yang masangin biar benar2 kuat dan rapi. Kata Mama dan beberapa orang Jepang, Maiko atau Geiko dibantu oleh 2 cowok buat naliin obinya...Pernah lihat perempuan Eropa jaman dulu dipakain korset? Ya kayak gitu. Badan harus tegak, biar perut rata dan obinya bagus... Udah diikat berulangkali, masih ditarik2... , kalau sesak nafas mending jangan deh... Pemakainya juga nggak boleh banyak gerak selama proses penalian obi ini biar obinya nggak kendur sebelum dikunciin di belakang. Di bagian belakang, diikat2 lagi dan ditata dengan berbagai bentuk.



7. Setelah selesai, dihiasi lagi dengan lilitan tali kecil di atas obinya atau obi-jime. Baru setelah itu, ditambahi dengan tali2 atau pita2 lain di belakang. Bisa juga dililiti lagi semacam kain tipis (mirip handuk, lagi2...) di bawah obi sebelah atas. Tujuannya, lagi2 untuk mempercantik dan meratakan perut dan dada.



8. Selesai dan tinggal pakai geta (sandal kayu) atau zori (sandal jerami). Ini yang perlu hati2! Kimono itu memang dibuat biar jalan kita "thimik-thimik" (istilah Jawa nih, artinya langkahnya kecil2) makanya ketika berjalan juga harus ekstra teratur. Masukin kaki ke geta yang susah karena tali sandalnya biasanya sangat sempit atau ngepres kaki.

Dari belakang akan tampak seperti di bawah ini, ada beragam cara penalian lho...





Nah, setelah cantik dengan kimono dan geta, pelengkapnya adalah tas tangan atau dompet yang selaras warna dan motifnya. Terus, siap jalan deh! Cara jalan yang bagus pun ada lho... Jadi, ujung sepatunya diarahin ke dalam, tapi nggak sampai lenggak-lenggok kayak peragawati lho. Cuman ujungnya aja. Ngangkat kakinya juga nggak boleh tinggi2. Naik turun tangan juga ada caranya, dengan sedikit menarik atau melipat kain kimono di bagian paha. Jadi itu to, jalan cantik ala Jepang. Makanya nggak heran banyak cewek Jepang yang sering dibilang jalannya kayak orang berkaki O. Terus, kalau nggak bawa apapun, tangannya diletakin di depan paha.



Mau duduk, ada aturannya lagi, kimono bagian bawah, agak ditarik ke atas dikit aja, lalu duduk sambil ngeratain permukaan kimononya. Lutut kanan, biasanya menyentuh lantai terlebih dulu dan diikuti lutut kiri pada waktu yang yang hampir bersamaan. Ribet ya bayanginnya? Emang enakan dipraktekkan langsung sih soalnya.



Untuk upacara minum teh, biasanya bawa sapu tangan yang sisipkan secara cantik di bagian dada. Gunanya buat ngelap bekas bibir kita di gelas yang kita pakai. Lengan yang panjang itu, bagian sisinya berlubang lho. Buat apa coba? Jadi, kalau ada tisu atau tusuk gigi yang habis kita pakai, dimasukkinnya ke sana...Kalau kepepet sih...

Nah, kimono tuh kan kesannya anggun, cantik, kalem, rapi, makanya kalau sudah susah2 didandani gitu jangan bertingkah yang aneh2 atau loncat2 seperti ini:



Atau berlaku bodoh dan genit dengan menghadang tamu2 di pintu lift seperti ini.... (berharap samurainya datang kali ya???)



Fiuh, panjang ya cerita tentang kimono. Masih belum dapat gambaran nyeseknya pakai kimono? Duduk mesti tegak terus, jangan sampai jatuhin barang daripada nggak bisa ngambil karena bakalan susah jongkok. Nah, kalau diikat sekencang itu, apa masih bisa makan? Masih bisa kok karena tingkat kekencangan obi itu biasanya diatur sesuai tujuan acaranya. Jadi, masih bisa diatur agar ada ruang buat perut yang bakalan penuh diisi makanan. Meski begitu, emang dasarnya orang Jepang makannya sedikit, beragam tapi jumlah masing2nya sedikit.

Pokoknya sama persis deh dengan kalau kita pakai pakaian tradisional Jawa yang mesti dililit dengan stagen (kain ikat pinggang). Untung sejak kecil biasa ditumbalka sebagai pagar ayu atau domas ataupun nari jadi nggak kaget2 amat. Bedanya dengan pakaian Jawa, kimono ini nggak ngebolehin bentuk tubuh perempuan yang elok itu tampak, justru harus lurus atau rata. Kalau jaritan, bentuk tubuhnya kayak gitar Spanyol, ya bakalan dibiarin saja. Malah kata perias2 Jawa itu, kalau pakai kain akan tampak bagus jika pantat dan pinggulnya berisi (hoooooo....). Kimono itu nggak seksi kok. Meski bagian ketiak nggak nyambung ke badan, tapi nggak bakalan nunjukin bagian yang nggak perlu dilihat orang kok. Yang bikin seksi itu, barangkali ketika ujung lengan disingkap dan lengannya yang putih tampak. Tapi, kayaknya hanya para entertainer seperti Maiko, Geiko, dan Geisha deh yang bisa bergerak segemulai itu. Eh, tapi seksi itu tergantung yang makai juga sih. Kalau pemakainya berpikir seksi, ya seksi....

bEriKT Ini pElEnGkAP KimoNonYAaA...

HADAJUBAN


JUBAN


ERI SUGATA


KOSHI HIMO


DATE JIME


JIME


OBI


FORMAL OBI


YUKATA'S OBI

DiPoSkAn oLEh : hIMawARi sEnPaI

aLl OsT bBF (BoYz bEfOrE FloWer)

Because I'm Stupid

nae meorineun neomuna nappaseo
neo hanabakke nan moreugo
dareun sarameul bogoinneun neon
ireon naemaeumdo moreugetji
neoui harue naran eopgetji
tto chueokjocha eopgetjiman
neoman baraman bogoinneun nan
jakku nunmuri heureugoisseo

neoui dwitmoseubeul boneungeotdo nan haengbogiya
ajik naui maeumeul mollado
kkeutnae seuchideusi gado

niga neomu bogosipeun naren
neomu gyeondigi himdeun nareneun
neoreul saranghanda ipgae maemdora
honja dasi tto crying for you
honja dasi tto missing for you
Baby! I love you! I'm waiting for you!

neoui harue nan eopgetji
tto gieokjocha eopgetjiman
neoman baraman bogoinneun na
honja chueogeul mandeulgo isseo

naegen sarangiran areumdaun sangcheogata
neoui yeppeun misoreul boado
hamkke nan utjido motae

niga neomu saenggangnaneun naren
gaseum sirigo seulpeun nareneun
niga bogosipda ipgae maemdora
honja dasi tto crying for you
honja dasi tto missing for you
Baby! I love you! I'm waiting for you!

Bye bye never say good bye
ireoke japji motajiman
I need you amu maldo motae I want you baraedo dasi baraedo

niga neomu bogosipeun naren
neomu gyeondigi himdeun nareneun
neoreul saranghanda ipgae maemdora
honja dasi tto crying for you

niga neomu saenggangnaneun naren
neomu gyeondigi himdeun nareneun
neoreul saranghanda ipgae maemdora
honja dasi tto crying for you
honja dasi tto missing for you
Baby! I love you! I'm waiting for you!



Stand By Me


Stand by me nal parabwajwo
ajik sarangeul morujiman
Stand by me nal jikyobwajwo
ajik sarange sotul-jiman

noreul bulsurok kibuni chohwajyo
nado mollae noraereul bullo
han songi jangmireul sago shipojin
iron nae moseub shingi-hande
nae ma-eumi noyege dah-neundeuthae
i sesangi areumdawo
iron solle-i-meul nodo neuggindamyon
budi chogumman kidaryojwo

Together make it love
Forever making you smile
noye hwanhan miso gadukhi
Together make it love
Forever making you smile
ije naesoneul naesoneul chaba
Stand by me nareul parabwajyo
ajik sarangeul moreujiman
Stand by me nareul jikyobwajwo
ajik sarange sotungot kata

noreul alsurok kaseumi ttollyowa
na-neun geujo utgoman isso
noyege salmyoshi kiseu haebol-kka
chogum ni mame tagasol-kka

nae ma-eumi ojjomyon sarangil-kka
nan ajigeun sujubeunde
ajik hangoreumdo tagasoji mothan
naye sarangeul kidaryojwo

Together make it love
Forever making you smile
noye hwanhan miso gadukhi
Together make it love
Forever making you smile
ije chogumsshik chogumsshik kalkke
Stand by me nareul parabwajwo
choum to kakkawo chigoshipo
Stand by me nareul jikyobwajwo
jom do mochige boigo shipo

nan chew-umen mollasso
nugunga parabo-neun-ge
ajikdo naema-eum molla
keudae-neun keudaereul saranghae

Together make it love
Forever making you smile
noye hwanhan miso gadukhi
Together make it love
Forever making you smile
ije naesoneul naesoneul chaba
Stand by me nareul parabwajyo
ajik sarangeul moreujiman
Stand by me nareul jikyobwajwo
ajik sarange sotungot kata



Almost paradise
(Romaji)

a-chimboda to nunbushin
nal hyanghan noye sarangi
on sesang da gajindeuthae

In my life
nae ji-chin salme kkum-chorom
tagawajun ni moseubeul
onjekkajina saranghal su it-damyon

noye so-neul jabkoso
sesan-geul hyanghae ggot sorichyo
ha-neureul goro yaksokhae
yong-wo-nhi ojing noma-neul saranghae
pam ha-neul bulbit gateun uri dulmanyi
a-reum-da-un ggum paradise
nowa hamkkehandamyon
odideun gal su isso to the my paradise

no deurot-don shigan-gwa
geu apeum modu da ijo-bwa
ije buto shijagiya nowa hamkke
ttonabo-neun goya tallyoga-neun goya
loving you forever

Almost paradise
tae-yangboda to ttaseuhan
nal bo-neun noye nunbi-cheun
on sesang ta gachindeuthae

In my life
nae ji-chin salme bit-chorom
tagawajun ni saran-geul
onjeggajina kanjighal su it-damyon

All of my love
All of my life
nae modeun kol goroso
na-neun nol saranghae

jo pureun batagateun uri dulmanyi
a-reum-da-un got paradise
nowa hamkke handamyon
odideun gal su isso to the my paradise

no deurot-don shigan-gwa
geu apeum modu da ijo-bwa
ijebuto shijagiya nowa hamkke
ttonabo-neun goya tallyoga-neun goya
loving you forever

Almost paradise
a-chimboda to nunbushin
nal hyanghan noye sarangi
on sesang ta gajindeut hae

In my life
nae ji-chin salme ggum-chorom
tagawa jun ni moseubeul
onjekkajina kanjighal su it-damyon

chonsagateun ni misoga
kadeukhan uri nagwone
noma-neul wihan kkotdeullo
yong-wo-nhi chaewodul-kkoya

Almost paradise
taeyangboda to ttaseuhan
nal bo-neun noye nunbi-cheun
on sesang ta kajindeut hae

In my life
nae ji-chin salme bit-chorom
tagawajun ni saran-geul
onjekkajina ganjighal su it-damyon
onjekkajina saranghal su it-damyon



Lucky

nan himi deulttaemyeon Lucky in my life
kudaega kkumchorom taga-oneyo
sulpo jil-ttaemyeon nan Lucky in my dream
kudae ttasuhage nal kkok kamssajuneyo

onjena irohke usoyo nan
sesangi himdulge haedo
nan choldae nunmureun poigo shipjin a-nhchyo
nae ma-meul moreu-neun keudaerado
mollisorado keudaeyi geu misoreul
kanjikhal su isso tahaengijyo

ulgo shipulttaen Lucky in my love
sangsansok kudaega motjyoboyeoyo
ulchokhaejimyeon nan Lucky in my world
keudae kkumgyol-chorom nal kkok anajujyoonjena irohke usoyo nan
sesangi himdulge haedo
nan choldae nunmureun poigo shipjin a-nhchyo
nae ma-meul moreu-neun keudaerado
mollisorado keudaeyi geu misoreul
kanjikhal su isso tahaengijyo

modeun-ge areumdawo nan nomu haengbo-khan-gol
weroun sesange nan tto nae sowo-neul tamayo

onjena irohke usoyo nan
sesangi himdulge haedo
nan choldae nunmureun poigo shipjin a-nhchyo
nae ma-meul moreu-neun keudaerado
mollisorado keudaeyi geu misoreul
kanjikhal su isso tahaengijyo
keudae han-goreumman tagawayo



Do You Know (Algoitnayo)

nan haessare nuni bushin
shinggeuron a-chimi omyon
sarange nu-neul tteumyo norael haeyo
ojig keudae hanaman wihaeso

For You I love you only you
sollei-neun mam gadeukhae
hyanggiro-un kopiboda pudeuro-un
naye sumkyollo geudaereul bowayo

keudae nae nu-neul bowayo
sollei-neun mam gadeukhae
mabobkateun kiseu-chorom ttasaro-un
naye maeu-meul ije-neun bowayo

anayo keudae-neun neukkijyo keudaedo
gaseumi malhago iin-neungon sarangiran-golyo
teullyoyo ije-neun bowayo ije-neun
kkotboda do a-reum-da-un sujubeun ma-eu-meul

nan yakso-khaeyo uri so-neul kkok goroyo
haengbokhan gibunijyo nunbushin unmyongijyo
sarangyi hyanggie chwihaebowayo yong-wo-nhi

anayo keudae-neun neukkijyo geudaedo
kaseumi marhago iin-neungon sarangiran-golyo
teullyoyo ije-neun bowayo ije-neun
kkotboda do a-reum-da-un sujubeun maeu-meul
oroji nan geudaema-neul saranghamnida
anayo keudae-neun neukkijyo geudaedo
gaseumi marhago iin-neun sarangiran-golyo
deullyoyo ije-neun bowayo ije-neun
kkotboda do a-reum-da-un sujubeun ma-eu-meul

nal para-bwayo naye so-neul kkok chabayo
haengbokhan gibunijyo nunbushin unmyongijyo
sarangyi hyanggiye misojioyo

nan barami puro omyon
salmyoshi du nu-neul kamgo
saranghae jumun-chorom soksagyoyo
iron naema-eum neukkil su it-dorok



One More Time Lyrics

(A)
haru-ga neomuna deodigo neomu himdeulda
nae maeumeul da boiryeohaedo geudae bol-suga eobseoseo

(B)
nan geujeo- jinagan siganeul wonmanghagoisseo
tto gyejeori tto bakkwieogado naneun yeo-jeonhi seulpeo~

(Refrain)
One more time!
apado jogeumdeo sarangeul halkkeol
neomaneul wihae utgo neomaneul wihae ulkke

One more time!
jeohaneul tteugeoun taeyangcheoreom
yeongwonhi neoui modeungeol saranghae ojik neomaneul

One more time!

(A)
usan-sok dajeonghan nimoseup neomuna geuripda
i nunmureul tto dakkabojiman naneun yeo-jeonhi seulpeo~

(Refrain)
One more time!
apado jogeumdeo sarangeul halkkeol
neomaneul wihae utgo neomaneul wihae ulkke

one more time!
bamhaneul bitnaneun byeolbiccheoreom
yeongwonhi neoui modeungeol saranghae ojik neomaneul

One more time!

uriege gateun naeiri chajaogireul yaksokhae
uriege gateun haengbogi chajaogireul yaksokhae
eonjena gyeote isseulkke~

(Refrain)
One more time!
apado jogeumdeo sarangeul halkkeol
neomaneul wihae utgo neomaneul wihae ulkke

One more time!
jeohaneul tteugeoun taeyangcheoreom
yeongwonhi neoui modeungeol saranghae ojik neomaneul

One more time!
(aahaam~) .. Oh! my love for you
Oh! One more time! (aahaa~)
Oh! my love for you
one more time!



A Little Lyrics

(A)
seulpeojimyeon kkochyanggireul matjyo
geuriun geudae hyanggireul manjyeoyo
georireul georeoyo barame seuchiun
geudae sumgyeol daheul deut haeyo

(A')
algoitjyo geudaen naemam moreujyo
bogosipeo nan tto pyeonjireul jeogeoyo
sujubeun nae maeum kkochipe ttuiwoseo
geudaeege bonaeyo

B
nan useoyo himideulmyeon useoyo
honjaseodo nan haengbokhaeyo
meolliseo meolliseo barabwaya hajiman
geujeo hangeoreum jocha dagaseoji motago

(Refrain)
jogeumeun algoinnayo jogeumeun bolsuinnayo
geudaen kkumcheoreom naui mamsok joyonghi heureumyeon
mundeuk jogeumeun nan geudael saranghaneun maeumeul
salmyeosi boigo sipeungeol

(A")
gibunjoheun geudae norae sorie
sujubeundeut nan tto gaseumi ttwieoyo
hoksina geudaega ireon nal bolkkabwa
salmyeosi tto sumeoyo

(B')
nan useoyo oerowodo useoyo
honjaseodo nan jalhaewatjyo
mareobsi mareobsi dwitmoseubeul bojiman
geudae budeureoun son jababogo sipjiman


(Refrain)
jogeumeun algoinnayo jogeumeun bolsuinnayo
geudaen byeolcheoreom naui mamsok chueogeul mandeureo
aju jogeumeun nan geudae ttasaroun eokkaee
gidaeeo jamdeulgo sipeoyo

unmyeongigetjyo sarangigetjyo
alkkayo ireon nae maeumeul

(Refrain)
jogeumeun algoinnayo jogeumeun bolsuinnayo
geudaen kkumcheoreom naui mamsok joyonghi heureumyeon
mundeuk jogeumeun nan geudael saranghaneun maeumeul
salmyeosi boigo sipeoyo

jogeumeun geudaereul geurijyo



Starlight Tears

saehayan byeolbichi nunmureul gamssayo
ttatteutan barame nunmuri naeryeoyo
geudae neukkinayo
joyonghi soksagineun geudaereul hyanghan i tteollimeul

hayan jongiwie geudael geuryeoyo
ttatteutan misoga nal anajuneyo
ige sarangingayo
du nuneul gama bwado geudaeman boineun geollyo

I will be waiting for you geudael gidarilgeyo
deo isang apeun nunmul boiji anheullaeyo
You let me know geojitmal gateun sarang
nochi anheul geoeyo baro geudaenikkayo

geudaewaui gieok sogeul geotgo isseoyo
gaseumsok gadeukhi nunmuri goyeoyo
na eotteoke hajyo
kkumsogeseodojocha geudaereul geuriwohaeyo

I will be waiting for you geudael gidarilgeyo
deo isang apeun nunmul boiji anheullaeyo
You let me know geojitmal gateun sarang
nochi anheul geoeyo baro geudaenikkayo

nal barabwa jwoyo jeogi jeo byeoldeulcheoreom
naemamui geudaega doeeojul su eomnayo

I will be waiting for you geudael gidarilgeyo
deo isang apeun nunmul boiji anheullaeyo
You let me know geojitmal gateun sarang
nochi anheul geoeyo baro geudaenikkayo



Fight the Bad Feeling

eotteokhanya
jakku nappeun maeumeul meokge dwae
mianhae

ireomyeoneun andoeneungeol ara
geojitmal geojitmarira malhamyeon
naemaeumi dasi doragalkka
nunmurina
neomu mianhaeseo nungil motjugo
gaseumapa
cheotmadireul mwollo hae
saenggaganna

ttutdu ttutthtutdu ttutduru ttutdut ttutdu
ppapba ppapbapba

geudaen jakku nareul
nappeun maeumeul meokge hae
geudaereul itneun maeum
naegeneun joheun mam anya
neomu nappeun maeumiya
nappeun mamiya nappeun mamiya
uri sarang yeongwonhi eobseojijianha

nappeun maeumeul meokge hae
geudaereul itneun maeum
naegeneun joheun mam anya
neomu nappeun maeumiya
neomu nappeun mamiya neomu nappeun maeumiya
urisarang jiuneungeon
neomu nappeun maeumiya

ibyeori sirheunde
geunyang neorang heeojigin jugeodo sirheo

museunmalhago jebal nal jaba jebal
jeongmal nae maeum byeonhage
hajimalgo yejeoncheoreomman

dajeonghage
geunyang yeppeuge naman bwajugo
ttaseuhage
hanmadiman haejumyeon
sowoneobseo

ttutdu ttutthtutdu ttutduru ttutdut ttutdu
ppapba ppapbapba

geudaen jakku nareul
nappeun maeumeul meokge hae
geudaereul itneun maeum
naegeneun joheun mam anya
neomu nappeun maeumiya
nappeun mamiya nappeun mamiya
uri sarang yeongwonhi eobseojiji anha

nappeun maeumeul meokge hae
geudaereul itneun maeum
naegeneun joheun mam anya
neomu nappeun maeumiya
neomu nappeun mamiya neomu nappeun maeumiya
urisarang jiuneungeon
neomu nappeun maeumiya

i-byeo-ri si-reun-de geu-nyang
neo-rang he-eo-ji-gin ju-geo-do si-reo



Happiness is...


haengbogi mueosinji alsuneun eobtjanhayo
dangsineomneun haengbogiran isseulsueobtjanhayo
isaengmyeong dabachyeoseo dangsineul saranghari
imoksum dabachyeoseo yeongwonhi saranghari
ibyeolmaneun marajwoyo naegyeote isseojwoyo
dangsineomneun haengbogiran isseulsu eobtjanhayo

sarangeun junghangeotdo ijeneun arasseoyo
dangsineomneun sarangiran isseulsu eobtjanhayo
isaengmyeong dabachyeoseo dangsineul saranghari
imoksum dabachyeoseo yeongwonhi saranghari
ibyeolmaneun marajwoyo naegyeote isseojwoyo
dangsineomneun haengbogiran isseulsu eobtjanhayo



Gaseumi Eotteokeh Dwaennabwa

gajimallaedo meomchwoseoraedo
neoreul hyanghaeganeun nae mamingeol
darchido annni juljido annni
waeiri nae sarangeun

chueok hanahana sego tto seneura
mameun hansido swijilmotae
ganugido himdeun jimman doeltende
wae nan beorijido motaneunji

jeongmal gaseumi eotteoke dwaennabwa
nunmeon sarange baboga dwaennabwa
ojik hangotman maeil hangotman
neoran seulpeun bicheul baraboda
nunmulsaemmajeodo gojangi nannabwa
jakku nunmuri meotjil anha
geujeo hanmadiman saranghae hanmadiman
naege malhaejumyeon andoeni

soneul ppeodeobwado amuri bulleodo
neoneun naegeseo meolgiman hae
apeun sangcheoman doel sarangiltende
wae nan jiujido motaneunji

jeongmal gaseumi eotteoke dwaennabwa
nunmeon sarange baboga dwaennabwa
ojik hangotman maeil hangotman
neoran seulpeun bicheul baraboda
nunmulsaemmajeodo gojangi nannabwa
jakku nunmuri meotjil anha
geujeo hanmadiman saranghae hanmadiman
naege malhaejumyeon andoeni

niga useumyeon nado haengbokhadan
geojitmallo nal wirohae bojiman
niga hyanghaeseon got naega aniraseo
oeroun nunmuri heulleo

jeongmal simjangi eotteoke dwaennabwa
himdeun sarange michyeobeoryeonnabwa
gatjido motae itjido motae
neoreul haruharu gidarida

neomuna geuriwo tari nangeongeobwa
neoreul neomuna saranghaeseo
geujeo hangajiman ni maeum hangajiman
naege nanwojumyeon andoeni

nareul saranghamyeon andoeni



sarangbakken nan molla

geudae naegyeote seon sungan
geu nunbichi neomu joha
eojeneun ureotjiman
oneureun dangsinttaeme
naeireun haengbokhalkkeoya

eolguldo ani meotdo ani ani
budeureoun sarangmani pillyohaesseoyo
jinagan sewol modu ijeobeorige
dangsin eobsin amu geotdo ijenhal su eobseo

sarangbakken nan molla

>> LaNjO3tAanN tEnTang kIMonOo

Kimono (bahasa Jepang: 着物 secara harafiah: "sesuatu yang dikenakan seseorang," atau "pakaian") adalah pakaian nasional Jepang. Bagi orang Jepang, kimono lebih dikenal dengan sebutan Wafuku (bahasa Jepang: 和服 secara harafiah: "pakaian Jepang") atau Gofuku (bahasa Jepang: 呉服 secara harafiah: "pakaian dari zaman Go di Tiongkok") untuk membedakannya dengan pakaian barat (Yofuku). Kimono yang dikenal sekarang ini berbentuk seperti huruf "T," berupa mantel berkerah yang panjangnya sampai ke pergelangan kaki. Kimono untuk pria terdiri dari setelan atas-bawah, sedangkan kimono untuk wanita. berbentuk baju terusan.

Cara memakai kimono dalam bahasa Jepangnya disebut Kitsuke. Peraturan dalam memakai kimono sangatlah terinci, mulai dari jenis-jenis kimono yang sesuai dengan acaranya, hingga aksesori yang sesuai dengan jenis kimono tertentu. Belajar mengenakan kimono juga bukan hal yang mudah, sehingga di Jepang banyak terdapat tempat kursus untuk belajar pakai kimono. Di toko-toko juga banyak dijual alat-alat bantu yang memudahkan orang memakai kimono. Walaupun sebetulnya kimono dapat dikenakan sendiri tanpa bantuan orang lain, kebanyakan wanita Jepang masih harus dibantu orang yang profesional sewaktu mengenakan kimono
Bahan kain untuk kimono merupakan seni tenun tradisional Jepang yang bernilai seni tinggi. Kimono untuk kesempatan formal dibuat hanya dari bahan kain sutera kelas terbaik dan hanya dijahit dengan tangan (tidak menggunakan mesin jahit), sehingga harganya menjadi sangat mahal. Kimono juga tidak pernah dijual dalam keadaan sudah jadi, melainkan harus dipesan sesuai dengan ukuran badan pemakainya.

Bahan kain untuk kimono haruslah kain yang ditenun dengan sempurna tanpa cacat dan harus dibeli dalam satu gulungan kain dengan tidak memperhitungkan tinggi badan si pembeli. Membeli kimono dimulai dengan memilih bahan kain untuk kimono yang disebut Tanmono (bahasa Jepang: 反物, secara harafiah: "gulungan kain yang panjangnya 1 Tan"). Jika kebetulan si pemakai kimono bertubuh pendek dan ramping, setelah kimono selesai dijahit nantinya akan banyak bahan kimono yang tersisa. Sisa-sisa bahan kimono bisa dimanfaatkan oleh si pemakai kimono untuk membuat aksesori sewaktu memakai kimono, seperti tas, dompet, atau sandal.

Kimono dapat dibeli dengan harga lebih murah pada kesempatan obral bahan kain kimono kelas dua yang disebut B-Tan Ichi (bahasa Jepang: B反市 secara harafiah: "Pasar kain kelas B") untuk membandingkannya dengan bahan kimono "kelas A" yang tenunannya sempurna tanpa cacat. Walaupun bahan kain yang dibeli mempunyai sedikit cacat, penjahit kimono yang berpengalaman dapat menyembunyikan bagian tenunan yang rusak, sehingga hasil jadinya terlihat hampir sama dengan kimono dari bahan sempurna.

Belakangan ini, di toko-toko banyak dijual kimono impor jenis Yukata yang merupakan hasil jahitan mesin di pabrik. Orang-orang Jepang banyak mengenakan Yukata produk impor yang harganya murah untuk kesempatan santai seperti menyaksikan pesta kembang api.

Ukuran kimono dapat disesuaikan dengan ukuran badan si pemilik, sehingga sering kimono yang dijahit dari bahan kain berkualitas dijadikan barang warisan keluarga. Kimono bekas pakai juga masih mempunyai nilai jual tinggi. Di Jepang bisa dijumpai toko-toko yang menjual kimono bekas pakai. Pada Perang Dunia II, sewaktu penduduk kota kekurangan pangan, kimono pernah digunakan sebagai alat bayar untuk membeli bahan makanan dan bumbu dapur seperti beras, telur, miso, dan gula.
Mengingat cara mengenakan kimono yang rumit dan harga kain tradisional untuk kimono yang mahal, kimono hanya dikenakan orang-orang Jepang zaman sekarang, baik pria maupun wanita, serta anak-anak sewaktu menghadiri acara-acara istimewa seperti hari-hari besar setempat atau mengikuti kegiatan seni dan olah raga yang bersifat tradisional.

Wanita yang sudah genap berusia 20 tahun tidak akan mau melewatkan kesempatan memakai kimono Furisode yang paling indah untuk menghadiri upacara Seijin Shiki. Begitu pula orang tua dan kakek-nenek merasa berkewajiban untuk mendandani anak-anaknya memakai kimono pada perayaan anak-anak yang berusia 7, 5 dan 3 tahun yang disebut Hichi-go-san. Selain itu, kimono banyak dikenakan oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang industri jasa dan pariwisata, seperti pelayan wanita di restoran khas Jepang (ryotei) dan pegawai penginapan khas Jepang (ryokan).

Kimono Wanita

Kimono untuk wanita terdiri dari berbagai jenis yang semuanya sarat dengan simbolisme dan isyarat-isyarat terselubung. Pilihan jenis kimono tertentu bisa menunjukkan umur si pemakai, status perkawinan (masih lajang atau sudah menikah), dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.

Jenis-jenis kimono wanita disusun menurut tingkatan formalitas, mulai dari kimono yang paling formal hingga kimono santai:

* Tomesode

Tomesode adalah jenis kimono yang paling formal, umumnya berwarna hitam dan hanya dikenakan oleh wanita yang sudah menikah. Tomesode yang berwarna hitam disebut Kurotomesode. Pada kimono jenis Tomesode terdapat lambang keluarga (kamon) si pemakai. Lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada) seusai dengan tingkat formalitas kimono. Ciri khas Tomesode adalah motif yang indah pada suso (bagian bawah sekitar kaki). Tomesode dikenakan untuk menghadiri resepsi pernikahan, pesta atau acara-acara yang sangat resmi.

* Furisode


Furisode adalah kimono formal untuk wanita muda yang belum menikah. Ciri khas Furisode pada bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian. Furisode dikenakan pada waktu menghadiri upacara "Seijin Shiki" (hari menjadi dewasa), menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda atau kunjungan ke kuil Shinto di hari-hari awal Tahun Baru (Hatsumode).

* Homongi

Homongi (bahasa Jepang: 訪問着, secara harafiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita yang sudah menikah atau wanita dewasa yang belum menikah. Homongi dikenakan wanita yang sudah menikah untuk menghadiri resepsi pernikahan, pesta-pesta resmi, Tahun Baru, atau upacara minum teh.

* Iromuji

Iromuji kimono semiformal yang bisa dijadikan kimono formal jika mempunyai lambang keluarga (kamon). Lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada) seusai dengan tingkat formalitas kimono. Bahan umumnya tidak bermotif dan berwarna merah jambu, biru muda, kuning muda atau warna-warna lembut lainnya. Iromuji dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan atau upacara minum teh.

* Tsukesage

Tsukesage adalah kimono semi formal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitasnya, Tsukesage hanya setingkat dibawah Homongi. Tsukesage biasa dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan, pesta resmi, Tahun Baru, atau upacara minum teh yang sifatnya tidak begitu resmi.

* Komon

Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas pada motif sederhana yang kecil-kecil yang berulang. Komon bisa dikenakan untuk menghadiri pesta alumni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.

* Tsumugi

Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah, walaupun boleh juga dikenakan untuk keluar rumah seperti berbelanja dan jalan-jalan. Ciri khas Tsumugi pada bahan yang merupakan bahan tenunan sederhana dari katun atau benang sutera kelas rendah yang tebal dan kasar sehingga kimono jenis ini tahan lama. Pada zaman dulu, Tsumugi digunakan untuk bekerja di ladang.

* Yukata

Yukata adalah jenis kimono santai yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis yang dipakai untuk kesempatan santai di musim panas.

[sunting] Pakaian Pengantin Wanita

Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (Hanayome Isho) terdiri dari Furisode dan Uchikake (sejenis mantel yang dikenakan di atas Furisode). Hanayome Isho dikenakan pengantin wanita pada saat upacara dan resepsi pernikahan.

Furisode khusus pengantin yang merupakan bagian dari Hanayome Isho berbeda dengan Furisode yang dikenakan wanita muda yang belum menikah. Furisode khusus pengantin mempunyai motif-motif yang dianggap dapat mengundang keberuntungan seperti burung Jenjang (burung Tsuru), dan berwarna lebih cerah dibandingkan dengan Furisode biasa.

Shiromuku adalah pakaian pengantin wanita tradisional Jepang yang berupa Furisode yang berwarna putih bersih dan tidak bermotif.

[sunting] Kimono Pria

Kimono pria jauh lebih sederhana dibandingkan dengan kimono wanita. Kimono pria didominasi warna-warna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.

* Setelan Montsuki dengan Hakama dan Haori

Kimono pria yang paling formal disebut Montsuki yang di bagian punggungnya terdapat lambang keluarga (Kamon) si pemakai. Bawahan yang digunakan untuk Montsuki adalah celana panjang Hakama, sedangkan mantelnya disebut Haori.

Montsuki yang dipakai lengkap dengan Hakama dan Haori juga berfungsi sebagai pakaian pengantin pria. Selain sebagai pakaian pengantin pria, Montsuki lengkap dengan Hakama dan Haori hanya dikenakan pada waktu menghadiri upacara yang sangat resmi, seperti resepsi pemberian penghargaan dari Kaisar/pemerintah.

*Ki Nagashi

Ki Nagashi adalah kimono santai untuk dipakai sehari-hari yang dikenakan pria untuk keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Bahannya bisa terbuat dari katun atau bahan campuran. Ki Nagashi banyak dikenakan pemeran Kabuki pada saat latihan atau guru tari tradisional Jepang pada saat mengajar.

[sunting] Aksesori dan Pakaian Pelengkap untuk Kimono

* Hakama

Hakama adalah semacam celana panjang yang dikenakan pria yang juga terbuat dari bahan berwarna gelap. Hakama berasal dari daratan Tiongkok dan mulai dikenal sejak zaman Asuka. Hakama umumnya dikenakan pendeta kuil Shinto . Di kalangan olah raga tradisional Jepang seperti Kendo dan Kyudo, Hakama dikenakan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

* Geta

Geta adalah sandal dari kayu yang dilengkapi dengan hak. Geta berhak tinggi dan tebal yang dipakai oleh Maiko disebut Pokkuri

* Junihitoe

Junihitoe adalah kimono 12 lapis yang dipakai oleh wanita Jepang zaman dulu di istana kaisar.

* Kanzashi

Kanzashi adalah hiasan rambut seperti tusuk konde yang disisipkan ke rambut sewaktu memakai kimono.

* Obi

Obi adalah sabuk dari kain yang seperti stagen yang dililitkan ke badan pemakai untuk mengencangkan kimono

* Tabi


Tabi adalah kaus kaki sepanjang betis yang dibelah dua pada bagian jari kaki untuk memisahkan jempol kaki dengan jari-jari kaki yang lain. Tabi dipakai sewaktu memakai sandal, walaupun ada Tabi dari kain keras yang dapat dipakai begitu saja seperti sepatu bot.

* Waraji

Waraji adalah sandal dari anyaman tali jerami.

* Zori

Zori adalah sandal tradisional Jepang yang bisa terbuat dari kain atau anyaman sejenis rumput (Igusa).


oLeH : hEnUinE LovE